Kamis, 22 Juli 2010
Jumat, 04 September 2009
Mari beramai-ramai teriakan : MALINGSIA....!!! (Bentuk Nasionalisme menuju Kehancuran)

MALINGSIA...!!!!, MALAYS**T....!!!
Yeah, kata-kata yang belakangan ini sering sekali kita dengar dimana2. Di salah satu situs jejaring sosial sperti Facebook, Orang-orang (atau setidaknya teman2 gw) sibuk mengupdate status dengan kata-kata ini. Forum-forum diskusi banyak yang membahas masalah peng-klaiman yang dilakukan Malaysia terhadap budaya Indonesia. Lalu apa hubungannya Teriakan2 itu (baca : Malingsia or whatever..) dengan sebuah Nasionalisme???
Gw pernah diskusi dengan Salah satu teman gw, dan dia mengatakan sedih dengan kondisi seperti ini, kenapa masyarakat Indonesia (terutama di forum2) tidak bisa berdebat dengan baik. Karena seperti yang kita tahu, Pengguna Internet dari malaysia dan Indonesia sering kali beradu argumen soal pengklaiman ini diforum-forum Internet. Mereka saling membela mati-matian Negaranya masing-masing. Terdengar sangat nasionalis bukan??
Tapi sesungguhnya apa yang terjadi diforum-forum tersebut (menurut gw) bukanlah bentuk nasionalisme...Mereka bukan saling membela negara yang mereka tinggali, tetapi mungkin kata "saling menjatuhkan" lebih tepat gw gunakan. Sangat sedikit dari mereka yang benar-benar beradu argumen, dan sisanya hanya dipenuhi umpatan dan kata-kata kasar yang saling menjatuhkan. Dan bukankah dengan kita menggunakan kata-kata kasar dan tidak sopan bisa menjadi bumerang untuk negaranya sendiri karena seakan-akan mencerminkan negaranya. Kenapa kemudian kita menjadi bangga dengan meneriakkan kata-kata makian "Malingsia" atau yg lainnya. Gw jadi teringat dengan lirik lagu KOIL "Kita merasa benar-benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini...", Ya, kita tiba-tiba merasa pintar, cerdas dan peduli dengan bangsa kita. padahal justru membuat kita semakin terlihat bodoh dengan kata-kata kotor yang kita keluarkan.
Mengutip dari kata-kata Jrx (SID) "Memaki memang mudah tapi apakah itu artinya anda seorang nasionalis? Nasionalisme itu sangat dalam dan agung, tolong jangan dimanfaatkan hanya untuk gagah-gagahan dan sekedar terdengar keren...."
Yahh, kondisi seperti inilah yang gw tangkap. Memaki kepada malaysia menjadi seperti sesuatu trend baru dan mereka tiba-tiba merasa menjadi seorang yang nasionalis dengan meneriakkan kata-kata "Malingsia". Sebuah bentuk nasionalisme yang payah kalo menurut gw...Hanya sebatas inikah bentuk nasionalisme yang kita miliki? Hanya sebatas memaki, mengumpat dan mengeluarkan semua umpatan-umpatan kasar yang kita miliki tanpa berfikir terhadap dampak yang dihasilkan nantinya...
Juga apakah setiap kali budaya kita kembali "diserang" oleh bangsa lain, kita hanya akan terus memaki dan memaki tanpa penyelesaian yang jelas.
Lalu bagaimana dengan Gw sendiri? sejujurnya, Gw malas menggunakan kata-kata tersebut, lalu apakah dengan begini gw menjadi seseorang yang tidak nasionalis?? gw menjadi tidak peduli dengan Bangsa gw sndiri?? sama sekali nggak... Gw peduli...Tapi Gw tidak bangga sama sekali menjadi warga negara "pemaki" seperti yang lain.
Ahhh...lagi-lagi gw jdi teringat lirik-lirik yang dinyanyikan KOIL dalam lagunya "Kenyataan dalam dunia fantasi"
"Nasionalisme untuk negara ini menuju kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran"
Sabtu, 04 Juli 2009
RBT save the industry, not the music…
Ring Back Tone adalah istilah yang sudah sangat tidak asing bagi kita. Hampir setiap pengguna ponsel pasti mengetahui istilah ini. Ring back Tone atau yang sering disingkat RBT disebut sebagai penyelamat industri musik Indonesia. Seperti yang kita ketahui, penjualan musik secara fisik (baca CD atau kaset) saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi oleh label-label besar dalam menjual karya artis-artisnya. Penyebabnya diantaranya adalah pembajakan yang sudah tidak terkontrol, semakin populernya mp3 player sampai download musik secara illegal yang semakin menggila.
Kehadiran RBT bisa dikatakan sebagai nafas segar bagi para pelaku industri musik di Indonesia dalam mendapat keuntungan melalui artis-artisnya. Lalu dimana poin dari tulisan ini?? Apakah gw tidak setuju kalau RBT dikatakan sebagai penyelamat industri musik Indonesia?? Sejujurnya, gw sangat setuju kalau RBT dikatakan sbagai penyelamat Industri musik, tapi hanya sebatas “industri”, bukan “musik” itu sendiri.
Membingungkan? Begini…kita sudah sama-sama tahu bukan kalau RBT bisa dikatakan hanyalah musik pengiring pada saat kita akan menelfon, (nada sambung atau apalah itu namanya) dan seperti yang kita ketahui, (here’s the point) durasi RBT rata-rata hanyalah 30 detik dari tiap lagu yang dijadikan RBT oleh pengguna ponsel tersebut. Lalu apa yang kita dapatkan dari 30 detik lagu itu sendiri, apakah kita benar-benar menikmati musik dengan hanya mendengarkan potongan lagu dengan kualitas suara yang apa adanya (baca RBT) itu. Memang bagi sebagian orang, alasan mereka memasang RBT sebagai nada sambung ponsel mereka adalah, mungkin pada saat itu lagu tersebut sedang sesuai dengan suasana hatinya, disamakan dengan karakteristik si pengguna ponsel atau memang sedang menyukai lagu tersebut. Lalu, dimana mereka benar-benar mendengarkan “keutuhan” suatu lagu tersebut??(here’s another point) Pada akhirnya kita akan kembali sibuk mendownload secara illegal untuk menikmati lagu-lagu favorit kita secara keseluruhan.
Apakah ini berakhir sampai disitu? belum…
Dalam wawancaranya dengan sebuah majalah rock n roll terbesar di Indonesia (bahkan dunia) seorang musisi jenius Indonesia (I don’t wanna mention a name) pernah berkata “Penjualan fisik itu sudah mati, Kalau yang aktivasi RBT itu kelas C dan D, ya gue akan membuat musik seperti kelas C dan D….”. (Here’s the real point) Pada akhirnya “Sang pembuat musik” itu sendiri harus menyerah dengan keadaan dan sibuk memanjakan pengguna RBT dengan tidak membuat musik yang berkualitas lagi. Meskipun pendapat ini bukan berarti bisa disimpulkan sebagai pendapat umum semua musisi Indonesia. But in the end, akan muncul band-band baru dengan satu hits single yang mudah dicerna yang “dijual secara” Ring back tone. Mungkin bagi band-band besar seperti GIGI, Padi, Dewa 19, dll, mereka masih mempertahankan kualitas musik mereka. Karena mereka pernah membuat album-album “fisik” hebat berkualitas yang bisa terjual jutaan kopi pada jaman sebelum RBT mengambil alih industri. Namun bagaimana dengan band-band yang baru muncul yang dipaksa oleh label untuk membuat lagu dengan mengikuti keinginan pasar saat ini yang lebih loyal dalam mengaktivasi RBT dibanding membeli album fisik secara legal. Pada akhirnya mereka akan membuat lagu yang mudah dicerna, “terlalu” easy listening dan mudah dilupakan (kalau tidak bisa dibilang tidak berkualitas). Karena tujuan utama label mengorbitkan artis-artis barunya tidak lain adalah untuk mendapatkan aktivasi RBT sebanyak-banyaknya.
Dan kesimpulan gw adalah, Ring back Tone memang benar bila dikatakan sebagai penyelamat industri musik Indonesia saat ini, Thank’s to it… Tapi menurut gw, RBT tidak menempatkan musik ditempat yang seharusnya. Musik seharusnya berada di tempat yang jauh lebih tinggi dan terhormat daripada sekedar menjadi nada sambung pribadi. Lalu bagaimana solusi terbaik untuk kembali menempatkan musik menjadi sesuatu yang berharga? Umm..well, I don’t really know…hehe… Gw membuat tulisan ini bukan untuk memberi jalan keluar, karena gw merasa belum cukup berpendidikan mengenai musik. Gw merasa perlu membuat tulisan ini karena gw hanya seseorang yang merasa hidupnya diselamatkan oleh musik.
“Music is more healing and unite than any religion...” –Iris-